Selasa, 11 April 2017

BIOKIMIA UJI LIPID DENGAN UJI AKROLEIN

Reaksi Uji Lipida (Uji Akrolein)
Lipid Test Reaction (Test Acrolein)

Katiara
Abstrak
Lipid adalah senyawa biomolekul yang digunakan sebagai sumber energi dan merupakan komponen struktural penyusun membran serta sebagai pelindung vitamin atau hormon. Lipid dapat dibedakan menjadi trigliserida, fosfolipid, dan steroid. Trigliserida sering disebut lemak atau minyak. Disebut lemak jika pada suhu kamar berwujud padat. Sebaliknya, disebut minyak jika pada suhu kamar berwujud cair. Salah satu uji kualitatif lipid adalah uji akrolein. Dalam uji ini terjadi dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak menghasilkan aldehid akrilat atau akrolein. Praktikum dilakukan pada tanggal 31 maret 2017 di Laboratorium Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala dengan tujuan untuk mengetahui beberapa sifat lipida terhadap beberapa pereaksi tertentu. Uji akrolein juga dapat digunakan untuk pengujian kualitas lipida. Hasil dari praktikum yang telah dilakukan menyatakan bahwa gliserol adalah larutan yang paling bagus kualitasnya di bandingkan dengan minyak kelapa dan minyak malinda.
Kata kunci: lipid, uji akrolein, gliserol, minyak kelapa, minyak malinda

Abstract
Lipids are biomolecules compound used as a source of energy and is a constituent of membrane structural components as well as protective vitamins or hormones. Lipids can be divided into triglycerides, phospholipids, and steroids. Triglycerides are often called fat or oil. Called the fat if it is a solid at room temperature. Conversely, if the oil is called liquid form at room temperature. One qualitative lipid test is the test of acrolein. In this test of dehydration of glycerol in free form or in fats / oils produce acrylic aldehyde or acrolein. Practicum on 31 March 2017 in the laboratory department of biology education teachers college and university education science Syiah kuala estuary in order to determine some of the properties of the lipids of some particular reactants. Acrolein test can also be used for testing the quality of lipids. The results of the lab work that has been done stated that glycerol is the most excellent solution quality in comparison with coconut oil and Malinda.           
Keywords: lipids, test acrolein, glycerol, coconut oil, Malinda

 
 
Pendahuluan
Lipid merupakan biomolekul yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik. Sifat kelarutan tersebut disebabkan sifat hidrofobik lipid tersebut. Sifat lain lipid, seperti titik didih dan ketidakjenuhan ditentukan oleh bentuk struktur lipid dan keberadaan ikatan rangkap. Sifat ketengikan ditentukan oleh kemampuan lipid tersebut teroksidasi. Lipid penghasil energi ada dalam bentuk asam lemak. Lipid simpanan atau storage lipid ada dalam bentuk wax dan gliserida. Lipid struktural berupa fosfolipid, sphingolipid, dan glikolipid. Lipid aktif berupa eikosanoid, fosfatidilinositol, turunan sphingosine, dan steroid. Lipid memiliki peran dan keterkaitan tertentu dengan kolesterol. Kolesterol termasuk golongan lipid yang disintesis dari asetil-koA dan konsentrasinya di dalam tubuh ditentukan oleh asupan makanan yang mengandung lipid. Lipid dalam bentuk trigliserida akan mengalami lipolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak tersebut akan mengalami β-oksidasi menghasilkan asetil koA yang akan masuk ke siklus Krebs untuk menghasilkan energi. Sebagian asetil-koA tersebut digunakan untuk sintesis kolesterol. Hal tersebut menunjukkan bahwa lipid (trigliserida) berperan dalam proses pembentukan kolesterol, yaitu sebagai penyedia asetil-koA sebagai bahan baku (Azhari, dkk, 2015, p. 3-5)
Lipid (lemak) adalah kelompok senyawa heterogen yang berkaitan baik secara actual maupun potensial dengan asam lemak. Sifat dari lemak secara umum tidak larut dalam air, sehingga limbah yang mengandung lemak yang terdapat dalam badan air mempunyai dampak yang cukup besar dalam mengganggu ekosistem perairan. Lapisan lipid  yang ada pada permukaan perairan akan menghalangi masuknya cahaya dalam badan air sehingga proses fotosintesis berlangsung terhambat dengan demikian kadar oksigen akan rendah  yang akan menyebabkan  organsme aerobic akan mati (Darmayasa, 2008, p. 1)
            Lemak dan minyak merupakan bagian terbesar dan terpenting kelompok lipid yaitu sebagai komponen makanan utama bagi organisme hidup. Lemak dan minyak penting bagi manusia karena adanya asam-asam lemak sensial yang terkandung di dalamnya. Fungsinya dapat melarutkan vitamin A, D, E, dan K yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kemudian, lemak dan minyak merupakan sumber energi yang lebih efesien dibandingkan karbohidrat dan protein. Secara kimiawi lemak dan minyak ialah trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Senyawa terbentuk dari hasil kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak (Yazid, dkk, 2006, pp. 41-42)
            Lipid yang terdapat sabagai bagian dari makanan hewan merupakan campuran lipida yang sederhana (terpena dan steroida) dan yang kompleks (triasilgliserol, fosfolipida, sfingolipida, dan lilin) yang berasal dari tanaman  dan jaringan hewan. Dalam mulut dan lambung hewan, lipida tadi belum mengalami pemecahan yang berarti. Setelah berada dalam intestin maka lipida komleks terutama triasilgliserolnya dihidrolisis oleh lipase jadi asam lemak bebas dan sisa. Hormon epineprin-lah yang mengaktifkan enzim lipase. Enzim ini dibantu oleh garam-garam asam empedu (terutama asam kholat dan tourokholat) yang disekresikan oleh hati. Fungsi garam tersebut ialah mengemulsikan makanan berlemak sehingga dengan demikian terbentuk emulsi lipida yang lebih kecil. Oleh karena itu, permukaan lipida per satuan berat menjadi lebih besar dan lebih mudah dihidrolisis oleh lipase (Matoharsono, 2006, p. 39)
Akrolein (CH2=CHCHO) adalah termasuk golongan aldehida tak-jenuh-α, β dan sangat elektrofilik yang dapat dijumpai pada berbagai jenis asap, seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor dan asap kebakaran hutan  serta dari  makanan yang terbentuk sewaktu pembakaran materi organik. Akrolein yang terdapat dalam asap rokok dapat memberikan pengaruh pada penghasilan sitokin melalui penghambatan kerja dari NFκB sehingga terjadi penurunan sitokin IL-12 dan mengakibatkan pematangan sel Th1 dan proses penghasilan IFN-γ menurun. Bila IFN-γ menurun maka efek inhibisi pada sel Th2 juga menurun, akibatnya Th2 mendominasi dan menghasilkan sitokin yang berperan dalam respon imun dan respon alergi akan meningkat (Serumpaet, dkk, 2016, p. 4)

Metode/cara kerja
Waktu dan tempat
Praktikum dilakukan pada tanggal 31 maret 2017 di Laboratorium Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala
Prosedur
Praktikum dilakukan secara bertahap. Pertama memasukkan masing-masing 2 ml gliserol, minyak malinda, dan minyak kelapa ke dalam tabung reaksi, kemudian tiap-tiap tabung di tambah 1 gram KHSO4. Lalu panaskan setelah itu melihat bau akrolei yang terbentuk dan berupa asap putih.
Tekhnik analisis data
Data diperoleh dengan menggunakan metode eksperimen yaitu percobaan langsung terhadap larutan-larutan yang telah disediakan, seperti minyak kelapa, minyak malinda, dan gliserol. Setelah melakukan percobaan tersebut yaitu mencampurkan gliserol, minyak kelapa, dan minyak malinda dengan KHSO4 kemudian sesudah di panaskan melihat asap putih yang keluar dari tabung tersebut dan mencium bau yang terbentuk.

Hasil dan pembahasan
Uji akrolein dilakukan untuk mendeteksi keberadaan molekul trigliserida. Gliserol dalam bentuk bebas atau yang terdapat dalam lipid akan mengalami degradasi jika dipanaskan. Hal tersebut akan menyebabkan terbentuknya molekul aldehid akrilat atau akrolein yang berbau menyengat atau tengik. Uji akrolein menggunakan senyawa KHSO4 sebagai bahan tambahan pembentuk akrolein. Uji akrolein berfungsi sebagai penguji kualitas lipid. Suatu lipid yang memiliki kualitas yang bagus jika larutan tersebut tidak terlalu bau jika direaksikan dengan KHSO4. Lemak atau lipid terbagi dua yaitu lemak jenuh dan lemak tak jenuh. Lemak jenuh terdapat di dalam tubuh dan tidak memiliki ikatan rangkap, misalnya gliserol. Sedangkan lemak tak jenuh yaitu memiliki ikatan rangkap dan diperoleh dari luar tubuh, misalnya minyak kelapa dan minyak malinda.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa minyak kelapa dan minyak malinda lebih bau tengik dari pada gliserol. Hal ini disebabkan karena gilserol tergolong kedalam lemak jenuh yang tidak memiliki ikatan rangkap dan asam lemak, oleh karena itu KHSO4 mudah larut didalamnya setelah dipanaskan dan warna berubah menjadi kecoklatan dan baunya tidak terlalu tengik. Sedangkan minyak kelapa dan minyak malinda termasuk ke dalam lemak tidak jenuh, yaitu memiliki ikatan rangkap dan KHSO4 tidak larut didalamnya, dan menimbulkan bau paling tengik. Semakin panjang ikatan rangkapnya maka akan semakin bau larutannya.

Simpulan dan saran
Simpulan
Setelah melakukan percobaan dapat disimpulkan bahwa kualitas lipid yang bagus terdapat pada gliserol, karena gliserol hanya membentuk sedikit bau dan tidak terlalu tengik. Sedangkan minyak kelapa dan minyak malinda memiliki kualitas lipida tidak bagus karena baunya paling tengik. Gliserol tidak terlalu berbau karena kekurangan atom H dan tidak memiliki ikatan rangkap, sedangkan pada minyak kelapa dan minyak malinda terdapat ikatan rangkap. Pada suatu larutan akan semakin berbau jika ikatan rangkapnya semakin panjang. 

Saran
Data hasil pengujian sampel masih banyak yang tidak sesuai dengan literatur akibat adanya kesalahan yang terjadi saat melakukan prosedur percobaan. Oleh karena itu, penting untuk ditingkatkan kemampuan dan ketelitian dalam bekerja di laboratorium, serta pengadaan alat dan bahan yang layak pakai atau dalam kondisi yang baik. 

Daftar pustaka
Azhari muhammad alwin, dkk (2015). LIPID “Uji kelarutan, Akrolein, Ketidakjenuhan, Ketengikan, dan Kolesterol”. Indonesian Journal On Medical Science, 3(2), pp. 3-5
Darmayasa (2008). Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Pendegradasi Lipid (Lemak) Pada Beberapa Tempat Pembuangan Limbah Dan Estuari Dam Denpasar. Jurnal Bumi Lestari 8(2), p. 1
Martoharsono (2006). Biokimia 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Serumpaet roy david, dkk (2016). Pengaruh Asap Rokok Terhadap Kualitas Hidup Total  Penderita Rinitis Alergi Persisten. Jurnal Skolastik  Keperawatan 2(1), p. 4 
Yazid, dkk (2006). Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Analisis. Yogyakarta: ANDI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar