Reaksi Uji Lipida (Uji Akrolein)
Lipid Test Reaction (Test
Acrolein)
Katiara
Abstrak
Lipid
adalah senyawa biomolekul yang digunakan sebagai sumber energi dan merupakan
komponen struktural penyusun membran serta sebagai pelindung vitamin atau
hormon. Lipid dapat dibedakan menjadi trigliserida, fosfolipid, dan steroid.
Trigliserida sering disebut lemak atau minyak. Disebut lemak jika pada suhu
kamar berwujud padat. Sebaliknya, disebut minyak jika pada suhu kamar berwujud
cair. Salah satu uji
kualitatif lipid adalah uji akrolein. Dalam uji ini terjadi dehidrasi gliserol
dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak menghasilkan aldehid akrilat atau
akrolein. Praktikum
dilakukan pada tanggal 31 maret 2017 di Laboratorium Prodi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala dengan tujuan
untuk mengetahui beberapa sifat lipida terhadap beberapa pereaksi tertentu. Uji
akrolein juga dapat digunakan untuk pengujian kualitas lipida. Hasil dari
praktikum yang telah dilakukan menyatakan bahwa gliserol adalah larutan yang
paling bagus kualitasnya di bandingkan dengan minyak kelapa dan minyak malinda.
Kata
kunci: lipid,
uji akrolein, gliserol, minyak kelapa, minyak malinda
Abstract
Lipids are
biomolecules compound used as a source of energy and is a constituent of
membrane structural components as well as protective vitamins or hormones.
Lipids can be divided into triglycerides, phospholipids, and steroids.
Triglycerides are often called fat or oil. Called the fat if it is a solid at
room temperature. Conversely, if the oil is called liquid form at room
temperature. One qualitative lipid test is the test of acrolein. In this test
of dehydration of glycerol in free form or in fats / oils produce acrylic
aldehyde or acrolein. Practicum on 31 March 2017 in the laboratory department
of biology education teachers college and university education science Syiah
kuala estuary in order to determine some of the properties of the lipids of
some particular reactants. Acrolein test can also be used for testing the
quality of lipids. The results of the lab work that has been done stated that
glycerol is the most excellent solution quality in comparison with coconut oil
and Malinda.
Keywords: lipids, test acrolein, glycerol, coconut oil, Malinda
Keywords: lipids, test acrolein, glycerol, coconut oil, Malinda
Pendahuluan
Lipid
merupakan biomolekul yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut
organik. Sifat kelarutan tersebut disebabkan sifat hidrofobik lipid tersebut.
Sifat lain lipid, seperti titik didih dan ketidakjenuhan ditentukan oleh bentuk
struktur lipid dan keberadaan ikatan rangkap. Sifat ketengikan ditentukan oleh
kemampuan lipid tersebut teroksidasi. Lipid penghasil energi ada dalam bentuk
asam lemak. Lipid simpanan atau storage lipid ada dalam bentuk wax dan
gliserida. Lipid struktural berupa fosfolipid, sphingolipid, dan glikolipid.
Lipid aktif berupa eikosanoid, fosfatidilinositol, turunan sphingosine, dan
steroid. Lipid memiliki peran dan keterkaitan tertentu dengan kolesterol. Kolesterol
termasuk golongan lipid yang disintesis dari asetil-koA dan konsentrasinya di
dalam tubuh ditentukan oleh asupan makanan yang mengandung lipid. Lipid dalam
bentuk trigliserida akan mengalami lipolisis menjadi asam lemak dan gliserol.
Asam lemak tersebut akan mengalami β-oksidasi menghasilkan asetil koA yang akan
masuk ke siklus Krebs untuk menghasilkan energi. Sebagian asetil-koA tersebut
digunakan untuk sintesis kolesterol. Hal tersebut menunjukkan bahwa lipid
(trigliserida) berperan dalam proses pembentukan kolesterol, yaitu sebagai
penyedia asetil-koA sebagai bahan baku (Azhari, dkk, 2015, p. 3-5)
Lipid
(lemak) adalah kelompok senyawa heterogen yang berkaitan baik secara actual
maupun potensial dengan asam lemak. Sifat dari lemak secara umum tidak larut
dalam air, sehingga limbah yang mengandung lemak yang terdapat dalam badan air
mempunyai dampak yang cukup besar dalam mengganggu ekosistem perairan. Lapisan
lipid yang ada pada permukaan perairan
akan menghalangi masuknya cahaya dalam badan air sehingga proses fotosintesis
berlangsung terhambat dengan demikian kadar oksigen akan rendah yang akan menyebabkan organsme aerobic akan mati (Darmayasa, 2008,
p. 1)
Lemak dan minyak merupakan bagian
terbesar dan terpenting kelompok lipid yaitu sebagai komponen makanan utama
bagi organisme hidup. Lemak dan minyak penting bagi manusia karena adanya
asam-asam lemak sensial yang terkandung di dalamnya. Fungsinya dapat melarutkan
vitamin A, D, E, dan K yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kemudian,
lemak dan minyak merupakan sumber energi yang lebih efesien dibandingkan
karbohidrat dan protein. Secara kimiawi lemak dan minyak ialah trigliserida
yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Senyawa
terbentuk dari hasil kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam
lemak (Yazid, dkk, 2006, pp. 41-42)
Lipid yang terdapat sabagai bagian
dari makanan hewan merupakan campuran lipida yang sederhana (terpena dan
steroida) dan yang kompleks (triasilgliserol, fosfolipida, sfingolipida, dan
lilin) yang berasal dari tanaman dan
jaringan hewan. Dalam mulut dan lambung hewan, lipida tadi belum mengalami
pemecahan yang berarti. Setelah berada dalam intestin maka lipida komleks
terutama triasilgliserolnya dihidrolisis oleh lipase jadi asam lemak bebas dan
sisa. Hormon epineprin-lah yang mengaktifkan enzim lipase. Enzim ini dibantu
oleh garam-garam asam empedu (terutama asam kholat dan tourokholat) yang
disekresikan oleh hati. Fungsi garam tersebut ialah mengemulsikan makanan
berlemak sehingga dengan demikian terbentuk emulsi lipida yang lebih kecil.
Oleh karena itu, permukaan lipida per satuan berat menjadi lebih besar dan
lebih mudah dihidrolisis oleh lipase (Matoharsono, 2006, p. 39)
Akrolein
(CH2=CHCHO) adalah termasuk golongan aldehida tak-jenuh-α, β dan
sangat elektrofilik yang dapat dijumpai pada berbagai jenis asap, seperti asap
rokok, asap kendaraan bermotor dan asap kebakaran hutan serta dari
makanan yang terbentuk sewaktu pembakaran materi organik. Akrolein yang
terdapat dalam asap rokok dapat memberikan pengaruh pada penghasilan sitokin
melalui penghambatan kerja dari NFκB sehingga terjadi penurunan sitokin IL-12
dan mengakibatkan pematangan sel Th1 dan proses penghasilan IFN-γ menurun. Bila
IFN-γ menurun maka efek inhibisi pada sel Th2 juga menurun, akibatnya Th2
mendominasi dan menghasilkan sitokin yang berperan dalam respon imun dan respon
alergi akan meningkat (Serumpaet, dkk, 2016, p. 4)
Metode/cara
kerja
Waktu dan tempat
Praktikum dilakukan pada tanggal
31 maret 2017 di Laboratorium Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala
Prosedur
Praktikum
dilakukan secara bertahap. Pertama memasukkan masing-masing 2 ml gliserol,
minyak malinda, dan minyak kelapa ke dalam tabung reaksi, kemudian tiap-tiap
tabung di tambah 1 gram KHSO4. Lalu panaskan setelah itu melihat bau
akrolei yang terbentuk dan berupa asap putih.
Tekhnik analisis data
Data
diperoleh dengan menggunakan metode eksperimen yaitu percobaan langsung
terhadap larutan-larutan yang telah disediakan, seperti minyak kelapa, minyak
malinda, dan gliserol. Setelah melakukan percobaan tersebut yaitu mencampurkan
gliserol, minyak kelapa, dan minyak malinda dengan KHSO4 kemudian
sesudah di panaskan melihat asap putih yang keluar dari tabung tersebut dan
mencium bau yang terbentuk.
Hasil
dan pembahasan
Uji
akrolein dilakukan untuk mendeteksi keberadaan molekul trigliserida. Gliserol
dalam bentuk bebas atau yang terdapat dalam lipid akan mengalami degradasi jika
dipanaskan. Hal tersebut akan menyebabkan terbentuknya molekul aldehid akrilat
atau akrolein yang berbau menyengat atau tengik. Uji akrolein menggunakan
senyawa KHSO4 sebagai bahan tambahan pembentuk akrolein. Uji akrolein berfungsi
sebagai penguji kualitas lipid. Suatu lipid yang memiliki kualitas yang bagus
jika larutan tersebut tidak terlalu bau jika direaksikan dengan KHSO4.
Lemak atau lipid terbagi dua yaitu lemak jenuh dan lemak tak jenuh. Lemak jenuh
terdapat di dalam tubuh dan tidak memiliki ikatan rangkap, misalnya gliserol.
Sedangkan lemak tak jenuh yaitu memiliki ikatan rangkap dan diperoleh dari luar
tubuh, misalnya minyak kelapa dan minyak malinda.
Dari
percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa minyak kelapa dan minyak
malinda lebih bau tengik dari pada gliserol. Hal ini disebabkan karena gilserol
tergolong kedalam lemak jenuh yang tidak memiliki ikatan rangkap dan asam
lemak, oleh karena itu KHSO4 mudah larut didalamnya setelah
dipanaskan dan warna berubah menjadi kecoklatan dan baunya tidak terlalu
tengik. Sedangkan minyak kelapa dan minyak malinda termasuk ke dalam lemak
tidak jenuh, yaitu memiliki ikatan rangkap dan KHSO4 tidak larut
didalamnya, dan menimbulkan bau paling tengik. Semakin panjang ikatan
rangkapnya maka akan semakin bau larutannya.
Simpulan
dan saran
Simpulan
Setelah
melakukan percobaan dapat disimpulkan bahwa kualitas lipid yang bagus terdapat
pada gliserol, karena gliserol hanya membentuk sedikit bau dan tidak terlalu
tengik. Sedangkan minyak kelapa dan minyak malinda memiliki kualitas lipida
tidak bagus karena baunya paling tengik. Gliserol tidak terlalu berbau karena
kekurangan atom H dan tidak memiliki ikatan rangkap, sedangkan pada minyak
kelapa dan minyak malinda terdapat ikatan rangkap. Pada suatu larutan akan
semakin berbau jika ikatan rangkapnya semakin panjang.
Saran
Data
hasil pengujian sampel masih banyak yang tidak sesuai dengan literatur akibat
adanya kesalahan yang terjadi saat melakukan prosedur percobaan. Oleh karena
itu, penting untuk ditingkatkan kemampuan dan ketelitian dalam bekerja di laboratorium,
serta pengadaan alat dan bahan yang layak pakai atau dalam kondisi yang
baik.
Daftar
pustaka
Azhari muhammad alwin, dkk
(2015). LIPID “Uji kelarutan, Akrolein, Ketidakjenuhan, Ketengikan, dan
Kolesterol”. Indonesian Journal On
Medical Science, 3(2), pp. 3-5
Darmayasa (2008). Isolasi Dan
Identifikasi Bakteri Pendegradasi Lipid (Lemak) Pada Beberapa Tempat Pembuangan
Limbah Dan Estuari Dam Denpasar. Jurnal
Bumi Lestari 8(2), p. 1
Martoharsono
(2006). Biokimia 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Serumpaet roy david, dkk (2016).
Pengaruh Asap Rokok Terhadap Kualitas Hidup Total Penderita Rinitis Alergi Persisten. Jurnal Skolastik Keperawatan 2(1), p. 4
Yazid,
dkk (2006). Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Analisis. Yogyakarta:
ANDI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar